Sunday, December 30, 2018

BANDAR CEME TERBAIK - Pengungsi tsunami mulai terjangkit berbagai penyakit

Pengungsi tsunami mulai terjangkit berbagai penyakit

BANDAR CEME TERBAIK - Seorang bocah bermain dengan barang yang rusak diterjang gelombang tsunami Selat Sunda di Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, Selasa (25/12/2018).

Para pengungsi daerah terdampak tsunami Selat Sunda mulai mengadukan keluhan berbagai penyakit. Setidaknya, ada 400 pasien korban tsunami yang ditangani di Posko Kemensos Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten.

"Paling banyak ISPA, kita punya data sekitar 116 pasien atau 29 persen menderita ISPA sejak kita mulai buka posko kesehatan pada Senin (24/12/2018) hingga Jumat (28/12) siang hari ini," kata Sylvianti kepada Kompas.com, Jumat (28/12).

ISPA, atau infeksi saluran pernapasan akut, merupakan salah satu dari tiga penyakit lain yang kerap dikeluhkan para pengungsi. Selain itu, keluhan pasian dari pengungsian lainnya berupa diare dan gatal-gatal pada kulit. Ada juga demam tipoid, meski angkanya tak terlalu besar.

Menjangkitnya penyakit disebabkan minimnya akses sanitasi dan air bersih, kondisi lingkungan, mandi cuci kakus (MCK), makanan, dan minuman yang kurang memadai di lokasi pengungsian saat ini.

Penyakit seperti flu dan diare yang dibawa dari sebelum bencana terjadi pun jadi semakin cepat menular.

"Kondisi stres sendiri tentu juga akan mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang, karena stress membuat orang kurang nafsu makan dan susah tidur," jelas dokter spesialis penyakit dalam konsultan, Prof Ari Fahrial Syam, seperti dikutip BeritaSatu (29/12).

Hal serupa juga dialami oleh pengungsi terdampak tsunami Selat Sunda di Provinsi Lampung.

Menurut catatan Tim Respon Lapangan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Pusat, sebanyak 69 pengungsi di Desa Sukaraja, Kabupaten Lampung Selatan yang mengeluh sakit hingga Jumat (28/12), rata-rata diketahui terjangkit ISPA, diare, dan muntah-muntah. Ada juga yang terkena cacar dan sakit kepala.

Selain itu, menurut Kepala Seksi Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanggamus, Cahyo Dwi Nugroho, terdapat puluhan warga yang terkena penyakit darah tinggi dan badan panas dingin.

"Bapak-bapak di pengungsian yang paling banyak terkena penyakit ini," ucap Cahyo, seperti dikutip MediaIndonesia.com (28/12).

Sebabnya, kaum lelaki yang masih was-was dan khawatir akan tsunami susulan, masih berjaga setiap malam hingga pagi hari untuk mengawasi lingkungan sekitar.

Sementara itu, untuk golongan penyakit berat hingga saat ini belum ditemukan adanya aduan. Kendati demikian, hingga saat ini tim medis masih akan melakukan patroli untuk mengecek kondisi kesehatan para pengungsi.

Upaya pencegahan dan penanganan penyakit

Seperti dijelaskan Prof Ari Fahrial Syam, yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, harus diambil langkah-langkah tepat guna mengurangi dampak buruk akibat kondisi tersebut.

Pertama adalah memastikan pengungsi mendapat pasokan makanan dan minuman yang memadai. Dapur umum pun harus mendapat suplai bahan makanan dan air bersih yang memadai untuk masak dan minum.

Lalu, kontrol persediaan makanan agar pengungsi tak mengonsumsi makanan yang sudah lewat masa berlaku. Hal ini berlaku untuk makanan kemasan maupun yang sudah dimasak.

Tidak lupa juga mengingatkan untuk selalu cuci tangan pakai sabun atau antiseptik untuk menghindari infeksi usus.

Di pengungsian, alas tidur dan selimut juga harus memadai agar tubuh para pengungsi terutama orang tua dan anak-anak tetap terlindungi dari angin malam.

Pengungsi juga diharapkan mendapat suplemen yang berisi multivitamin dan mineral mengingat keterbatasan makanan dan minuman dengan zat gizi yang lengkap yang bisa dikonsumsi sehari-hari. Stok obat-obat sederhana, obat penurun panas, obat anti diare, obat sakit kepala dan oralit juga masih dibutuhkan.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto Achmad, mengimbau agar tim medis rutin mengganti perban bagi korban luka-luka yang masih butuh perawatan intensif.

Tsunami di Selat Sunda menyapu kawasan pesisir di Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12). Hingga saat ini tercatat sebanyak 431 orang meninggal dunia, 7.200 orang luka-luka, 15 orang hilang, dan 46.646 orang mengungsi.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.