Sunday, July 14, 2019

Ketika Suami Ingin Poligami, Pilih Cerai atau Ikhlas Dimadu?

Ketika Suami Ingin Poligami, Pilih Cerai atau Ikhlas Dimadu?

Ketika Suami Ingin Poligami, Pilih Cerai atau Ikhlas Dimadu?



ISU poligami kembali meramaikan publik Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari kemunculan berbagai gerakan yang mendukung praktik tersebut. Sebut saja gerakan Poligami Sakinah Group (PSG) yang sempat viral pada 2015 lalu.

Belum lama ini, hashtag #2019tambahistri juga sempat menghebohkan jagat maya, hingga menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

wawancara eksklusif kepada sejumlah responden mengenai tanggapan mereka tentang poligami. Berikut ulasannya.


Bukan perkara sunah rasul

Dimulai dari pendapat Nodia yang saat ini bekerja di salah satu institusi pemerintah. Bila suatu saat nanti sang suami meminta izin untuk berpoligami, ia lebih memilih mundur karena tidak setuju dengan konsep poligami.

Menurutnya, kebahagiaan wanita itu sifatnya subjektif. Meski sang suami sudah berusaha sekuat mungkin membahagiakan istrinya, belum bisa menjamin bahwa sang istri benar-benar merasakan kebahagiaan tersebut.


Apalagi kalau alasannya sampai dikaitkan ke arah sunah rasul. Nodia tidak yakin akan ada pria di bumi ini yang dapat memberikan nafkah lahir batin kepada istri tua dan istri mudanya secara adil.

"Dulu Nabi itu menikah lagi tujuannya untuk membantu perempuan-perempuan yang kekurangan, atau janda yang ditinggal mati oleh mujahid. Sekarang gue rasa lelaki jaman now nikah lagi hanya untuk memenuhi nafsu mereka," kata Nodia.

Nodia menambahkan, dari awal ia membina hubungan dengan sang suami, keduanya juga telah membuat sebuah komitmen bersama bahwa, apapun yang akan terjadi di masa mendatang, tidak akan pernah ada wanita atau pria lain dalam kehidupan rumah tangga mereka.

"Saat menikah itu, janjinya ke Allah itu bertanggung jawab untuk gue. Kalau ngajuin poligami, bisa seadil apa sih dia? Emang dia tahu gue sudah sebahagia apa? Gue pribadi lebih baik meminta cerai," tegas Nodia.

Perempuan itu mudah tersakiti

Hal senada juga disampaikan oleh Mirna Sari. Wanita yang saat ini bekerja sebagai perawat di rumah sakit kenamaan ibu kota itu mengatakan, tidak ada satu pun wanita yang ingin dimadu. Kalau pun ada, dia pasti wanita yang sangat luar biasa.


"Kalau saya tidak mau cinta saya dibagi. Perempuan itu perasaannya lebih sensitif, gampang tersakiti dan kecewa. Saya sendiri tidak sanggup ke perasaan, perempuan gampang tersakiti dan kecewa. Saya itu orangnya baperan, sensitif, dan emosional," kata Mirna.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, bila nantinya sang suami bisa bersikap adil, dia tetap tidak akan tahu apakah perasaan istri tuanya itu benar-benar bahagia atau malah tersinggung.

"Intinya semua perempuan itu punya perasaan, saya yakin pasti nanti ada perasaan tersinggung. Setahu saya, selama ini istri pertama yang bertahan setelah dipoligami itu alasannya tidak jauh-jauh karena anak," tegas Mirna.


Saya bukan Aisyah

Tanggapan selanjutnya datang dari seorang wanita muda asal Makassar yang saat ini masih mencari jodoh impiannya. Dia adalah Andi Sartika.

Jawaban Tika ternyata juga sama dengan Nodia dan Mirna yang menolak untuk dipoligami. Alasan dia sangat sederhana. Dia mengaku tidak memiliki kekuatan batin seperti istri-istri Rasulullah.

"Saya bukan istri Nabi seperti Aisyah atau Fatimah, jadi lebih baik minta cerai. Buat saya uang itu bisa dicari, kebahagiaan itu susah. Sekarang banyak orang mau dimadu, karena alasan anak dan kebutuhan nafkah, tapi batinnya tersiksa," tutur Tika.

Untuk isu poligami ini, Tika termasuk sosok yang cukup keras menentangnya. Bahkan, ketika menjalin hubungan dengan seorang pria pun ia sudah melakukan tindakan preventif untuk mencegah sang pacar dari godaan wanita lain.

"Pacar saya saja kalau like foto wanita lain saya tidak izinkan. Apalagi kalau sudah menikah nanti. Karena berawal dari like bisa turun ke DM (pesan pribadi)," tambahnya.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.